Uncategorized

Awas, Badai Sitokin Mengintai

Dalam podcastnya yang bertajuk Saya Sakit, Kritis, dan Hampir Meninggal, Dedy Corbuzier menyebut dirinya lengah sehingga akhirnya ia terjangkit virus Covid-19. Parahnya, ia sempat mengalami masa kritis selama tiga hari dan ada kemungkinan besar meninggal. Beruntung ia berangsur pulih setelah mengalami fase antara hidup dan mati selama tiga hari di rumah sakit.

Dedy kecewa pada dirinya sendiri. Ia pun mempertanyakan kenapa orang sepertinya yang notabene “sehat”, berolahraga setiap hari, asupan vitamin D dan zync tinggi bisa terkena Covid-19 tanpa gejala. Dedy mengakui bahwa sebelum terpapar, ia mengurus keluarganya yang terkena Covid-19. “Saat itu saya sangat pede (percaya diri) karena pola hidup saya sehat dan saya juga melakukan prokes,” terangnya.

Bahkan ketika pertama kali dinyatakan positif Covid-19 pasca melakukan tes antigen, Dedy mengaku tidak khawatir. “I don’t worry. Saya sama sekali tidak khawatir. Paling demam dua hari. Itu yang ada di pikiran saya. Karena vitamin saya full, makanan saya sehat, olahraga saya kuat. I can survive and I don’t care,” ungkap pria berkepala plontos dalam podcast-nya.

Benar. Apa yang dipikirkan Dedy saat itu. Setelah beberapa hari perawatan, ia pun melakukan tes antigen hingga tiga kali dengan tiga macam tes. Hasilnya? Dia dinyatakan negatif. Ya, karena Dedy sama sekali tidak memiliki gejala Covid-19. Ia pun kembali beraktivitas seperti biasa. “Lalu saya podcast lagi karena saya pikir sudah tidak ada apa-apa,” katanya.

Namun keadaan berbalik, setelah memasuki minggu kedua. Tiba-tiba Dedy merasakan demam. Suhu tubuhnya mencapai 40 derajat celcius. Ia pun merasakan vertigo (kepala terasa berputar). Esoknya di rumah sakit, dokter yang menanganinya mengatakan bahwa kondisi Dedy memburuk. Dia merasakan demam sangat dan badan terasa sakit. Hasil CT Scan Thorax-nya 60% (kondisi kerusakan pada paru). Kata dokter, Dedy mengalami badai sitokin. “Saya kaget ketika dibilang badai sitokin. Karena ini setahu saya bisa membuat orang meninggal,” ungkap Dedy.

Badai Sitokin

Temantemin, dari gambaran cerita di atas jelas bahwa tidak ada jaminan bagi mereka yang hidup sehat dan menjalani prokes dengan baik itu bisa terhindar dari virus Covid-19. Buktinya Dedy Corbuzier. Dia pun terpapar. Bahkan parahnya, dia terkena badai sitokin. Apa sebenarnya badai sitokin itu?

Perlu digarisbawahi bahwa badai sitokin itu bukanlah nama penyakit. Karena ini merupakan sindrom yang mengacu pada sekelompok gejala medis, di mana sistem kekebalan tubuh mengalami terlalu banyak peradangan. Sitokin sendiri merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Jika kondisi normal, sitokin akan membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.
Mengutip dari laman Alodokter, dijelaskan bahwa badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita Covid-19. Lalu kenapa badai sitokin ini begitu menakutkan? Ya karena orang yang mengalami kondisi ini harus mendapatkan perawatan intensif. Bila tidak, dimungkinkan badai sitokin itu akan menyebabkan kegagalan fungsi organ dan bisa berujung pada kematian.
Menurut ahli paru RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, dr. Efriadi Sp.P yang dikutip dari laman kumparan, orang yang aktif berolahraga bukan berarti bisa terbebas dari penyakit seperti COVID-19. Katanya Covid ini unik. Kesempatan sekecil apa pun bisa membuat banyak kerusakan pada organ tubuh. Nah secara khusus kerusakan pada organ paru itu, katanya, bisa saja terjadai pada orang yang rajin berolahraga. Hanya saja kata dr. Efriadi kecenderungannya adalah tetap memiliki saturasi oksigen yang baik meski terinfeksi.

Lalu bagaimana mengantisipasi badai sitokin itu? Intinya adalah tetap menjalankan prokes 5 M (mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Itu pun belum cukup. Karena bisa jadi, orang yang dalam kondisi tubuh yang kurang baik menjadi rentan terhadap segala penyakit. Boleh jadi, orang dengan olahraga cukup tapi mengabaikan waktu istirahat yang cukup. Hal ini juga bisa membuat orang menjadi tidak fit dan menjadi rentan terpapar.