Uncategorized

Menolak Divaksin, So… What?

Seperti biasa, setiap Selasa dan Jum’at, Sekar selalu berkunjung ke rumah Ica untuk mengambil kue pesanan. Sekar sebagai reseller kue memang sudah menjadikan Ica sebagai partner bisnisnya. Kesamaan tentang selera dan rasa membuatnya begitu klik. Boleh dibilang apa yang dibuat Ica, selalu berhasil dijual oleh Sekar melalui jalur online. Begitu pun sebaliknya, apa yang dipesan Sekar, tak pernah ditolak oleh Ica. Simbiosis mutualisme pun tercipta diantara keduanya.

Namun suatu hari, Sekar merasa ada perbedaan prinsip yang begitu mengganggu hubungan keduanya. Kala itu Sekar baru saja menunaikan vaksinasi dosis pertama di sebuah Rumah Sakit. Sepulangnya dari rumah sakit, Sekar langsung meluncur ke rumah Ica untuk mengambil kue pesanannya. Sesampainya di rumah Ica, pertanyaan pertama muncul dari mulut Ica, “..dari mana lo?”. Dengan enteng Sekar menjawab: “Gue habis vaksin nih…”. Mendengar jawaban itu raut muka Ica berubah dari yang ceria menjadi skeptis.

Intinya Ica tergolong orang yang tidak ingin divaksin terkait Covid-19. Alasannya pun bermacam-macam. Mulai dari konspirasi hingga adanya chip pada dosis vaksin. Chip secara umum merupakan bagian kecil dan tipis dari silikon tempat transistor penyusun mikro processor ditanamkan). Makanya Ica sempat meledek Sekar dengan mencoba menepuk lembut lengan Sekar sambil berkata: “Ini ada chip-nya nggak ya..?. Mendengar itu, Sekar pun tak kalah sengit dan berujar: “Yaelah…, elo tuh kemakan hoax tau,” celoteh Sekar.

Kisah dari sahabat menjadi benci juga dialami oleh Ipung dan Bahar. Keduanya adalah sobat kental di masa kuliah. Meski keduanya well educated, namun soal vaksin Covid-19, mereka bisa berbeda pandangan 180 derajat. Bahkan perdebatan kedua karib di grup whatsapp itu begitu meruncing. Ipung meski pendapatnya tak didukung mayoritas penghuni grup, tetap bersikeras sampai kapan pun ia tidak akan mau divaksin Covid-19. Sementara di sisi lain Bahar terus menggelontorkan data tentang pentingnya vaksin. Namun kembali lagi, ini soal prinsip. Pro dan kontra terkait program vaksinasi Covid-19 yang hingga kini masih berlangsung jadi hal yang lumrah. Apalagi di era keterbukaan informasi, dimana setiap orang bisa mengakses informasi sesuka hatinya.

Menolak vaksin adalah hak setiap individu masing-masing. Namun merebaknya penolakan terhadap vaksin Covid-19 itu sendiri didorong oleh masifnya berita miring tentang kandungan dari vaksin itu sendiri. Banyak versi dikatakan bahwa dosis vaksin itu mengandung chip yang intinya bisa merugikan penerima dosis vaksin. Bahkan informasi yang paling ektrem adalah dikatakan bahwa vaksin itu sebagai senjata pembunuh masal. Bayangkan jika informasi ini terus menerus diterima masyarakat dalam berbagai versi. Sudah barang tentu, masyarakat akan menolak divaksin dengan beragam alasan.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh penulis lepas bernama Don Eamon yang berjudul Answer to Is it even possible to put a microchip in a liquid vaccine? dikatakan bahwa dimungkinkan memasukkan microchip ke dalam vaksin cair. Cuma, itu biasa dilakukan untuk hewan peliharaan. Dan itu pun menggunakan jarum vaksin yang jauh berbeda ukuran. Jarum injeksi microchip jauh lebih besar ketimbang jarum vaksin yang selama ini digunakan untuk vaksinasi Covid-19 pada manusia. Dan pastinya akan sakit jika jarum besar itu digunakan untuk manusia. Jadi bisa disimpulkan bahwa adanya microchip pada dosis vaksin Covid-19 yang selama disuntikan kepada masyarakat adalah bualan belaka.

Menolak Vaksin

Sebenarnya bukan baru-baru ini saja informasi penolakan vaksin berembus. Sejak Januari 2021, penolakan vaksinasi itu sudah berembus. Bahkan salah satu anggota DPR saat itu dengan tegas menolak untuk divaksin dan rela membayar denda akibat penolakan tersebut. Kala itu ia beralasan bahwa vaksin tersebut belum melalui uji klinis tahap ketiga.

Lantas bagaimana agar terhindar dari virus Covid-19? Seorang ahli mikrobiologi menyatakan bahwa hal terbaik agar terhidar dari virus tersebut adalah dengan mencegah agar tidak terinfeksi; dengan tetap berpikiran positif, menjalan pola hidup sehat dan bersih, dan terus menjaga imunitas. Caranya? Ya salah satunya adalah lebih banyak aktivitas di outdoor agar lebih banyak terpapar sinar matahari.

Kembali ke soal penolakan vaksin. Meski terus bermunculan ajakan menolak vaksin Covid-19 di media sosial; mulai dari cara yang halus hingga keras, namun mayoritas masyarakat Indonesia masih memilih untuk ikut program vaksinasi nasional. Dikabarkan bahwa untuk menjangkau sekitar 190 juta rakyat Indonesia dibutuhkan ketersedian vaksin sekitar tiga tahunan. Artinya harapan untuk terbentuknya herd immunity dari vaksin itu juga masih butuh waktu panjang.